Mungkin aneh yah kalau
bicara tentang Prinsip Cinta...
Setiap kali saya buka di sosial media
banyak tentang status, mention, pm, dsb itu tentang cinta-cinta.. nah hari
ini akan saya bahas adalah prinsip dan idealisme tentang cinta.
Contoh dari beberapa mention, status dan
pm berikut ini
·
Cinta itu suci, tak memandang rupa. Kalau memandang rupa, berarti nafsu.
·
Kalau memang cinta, dia akan memperjuangkan segalanya sampai akhir.
·
Dalam PDKT, jangan tunjukkan cinta, tapi tunjukkanlah kasih. Karena cinta
itu menolak, kasih itu menerima. *lalu lanjut sampai empat halaman folio
tentang kasih abstrak yang tidak kelihatan aplikasinya sama sekali selain
sastra*
·
Dan berbagai jenis kalimat-kalimat indah
motivasi yang sering ada di akun-akun menye lainnya.
Begini, punya prinsip itu bagus. Idealis
pun bagus. Tapi yang namanya cinta, romansa, PDKT dan pergaulan itu berhubungan
dengan banyak orang. Kamu boleh punya prinsip APA SAJA tentang semua itu, tapi
bila orang lain tidak menggunakan prinsip yang sama, bukankah jadinya sia-sia?
Contoh, kamu ngobrol tentang kuda dengan anak kecil yang percaya bahwa pegasus
itu ada dan nyata, tentu saja akhirannya nggak nyambung.
Nah misalnya ada orang yang berprinsip
bahwa “Cinta itu suci, tak memandang rupa.” Lalu karena prinsip itu, dia
mengabaikan penampilan, keluar rumah dalam kondisi lecek, kumel, rambut
berantakan, muka minyakan, jerawatan pula. Istilah bekennya, “Apa adanya.” Tapi
ironisnya, orang-orang ini hanya mendekati lawan jenis yang menarik saja,
padahal kata prinsipnya “cinta tidak memandang rupa.” Setelah sekian lama, karena
tidak ada yang tertarik, dia lalu berkata, “Di jaman modern ini, cinta sejati
sudah mati dan tak ada lagi. Cuma ada uang dan tampang.” Kamu tentu kenal
dan bisa langsung menyebutkan orang-orang yang seperti ini.
Atau ada orang lain yang berkata, “Kalau
memang cinta, dia akan memperjuangkan segalanya sampai akhir.” Tapi orang yang
ngomong sebenarnya cuma diam saja, sambil menunggu dan menagih perjuangan dari
orang-orang yang “kelihatannya” mencintai dia. Dia sendiri tidak melakukan
apa-apa, cuma nunggu aja sambil ngetwit, “Bila memang cinta, ya berjuang.”
Setiap hari. Sambil membenci orang-orang lain yang hubungannya bekerjasama,
lalu jadian. Sama seperti contoh di atas, kamu tentu kenal dan bisa langsung
menyebutkan orang-orang yang seperti ini.
Bukankah jadinya menyedihkan??
Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga
punya prinsip cinta yang idealis? Idealis itu memang bagus, asal realistis. Ada
begitu banyak hukum alam dan kondisi sosial yang tidak akan pernah berubah,
tidak peduli seberapa idealis kamu ngotot ataupun setiap hari ngetweet tentang
prinsip kamu. Contoh: Sampai kapan pun, orang akan selalu tertarik pada
lawan jenis yang menarik, titik.
Sesekali, kamu perlu berhenti sejenak
dan merenung tentang bagaimana hasil prinsip kamu selama ini. Bila hasilnya
selama ini adalah jomblo, merana, selalu iri dengan orang lain, ngebet nikah
dan selalu salah mengira sinyal dari orang lain, bukankah itu tanda yang jelas
tentang kualitas prinsip kamu? Bila kamu menginginkan hasil yang berbeda, sudah
saatnya kamu mengganti apa yang kamu percaya selama ini.
Beberapa Prinsip Dasar Cinta yang Cerdik
Pada dasarnya kisah cinta
masing-masing orang adalah unik dan tidak sama. Oleh karenanya tidaklah mungkin
untuk membuat batasan-batasan sempit atau rumus-rumus jitu dalam memiliki
hubungan cinta yang benar dengan seseorang.
Namun ada beberapa prinsip dasar yang mutlak yang harus
diterapkan lebih dulu untuk mendapatkan suatu hubungan cinta yang sehat.
Cinta
harus diuji melalui waktu.
Cinta yang sejati membutuhkan dan diuji oleh waktu. Orang yang
sudah menikah selama bertahun-tahunpun masih sering menemukan hal-hal yang
belum dikenal dari pasangannya. Pandangan “Love at The First Sight” adalah
tidak tepat, yang terjadi sebenarnya adalah “Infatuation (Kasmaran) at The
First Sight”. Kasmaran akan luluh ditelan waktu.
Mengambil waktu yang cukup lama untuk memutuskan memiliki
hubungan cinta dengan seseorang adalah hal yang sangat vital. Waktu 6 bulan
selalu lebih baik dari 1 bulan, waktu 1 tahun selalu lebih baik dari 6 bulan,
demikian seterusnya… Cinta sejati tidak akan memudar seiring berjalannya waktu,
justru makin lebih obyektif dan terarah. Dalam menjalani hubungan cintapun
waktu memiliki peranan yang penting. Diperlukan waktu yang cukup untuk agar
cinta menjadi makin murni. Dr. Desmond Morris, dalam risetnya menemukan bahwa
biasanya perkawinan yang bahagia dan langgeng diawali oleh suatu hubungan yang
tidak terburu-buru dalam berpacaran. Hubungan yang baik ibarat sebuah lem yang
direkatkan kepada dua benda, tidak boleh buru-buru direkatkan supaya memperoleh
daya lekat yang maksimal. Dalam pengujian waktu ini ada beberapa hal yang harus
dipikirkan dan dilakukan:
Pikirkan bagaimana hubungan ini akan mempengaruhi
hubungan-hubungan lainnya.
Setiap kali kita tertarik pada seseorang kita harus mengingat
bahwa kita akan memiliki tiga jenis hubungan: hubungan dengan orang yang
menarik hati kita, hubungan dengan orang-orang di sekitar kita (termasuk
keluarga dan teman), dan hubungan dengan Tuhan.
Kita harus bertanggungjawab agar ketiga hubungan tersebut dapat
berjalan dengan seimbang. Memikirkan hal ini terlebih dahulu menghindarkan kita
dari keterlenaan asmara.
Menjalin
persahabatan yang erat lebih dulu.
Saat kita tertarik pada seseorang prioritas pertama adalah
menjalin persahabatan yang erat dengan dia terlebih dulu. Persahabatan
membuat kita saling mengenal dengan obyektif. Dalam tahap ini gelora asmara
tidak boleh dibiarkan berkembang. Asmara hanya akan mengaburkan pandangan kita
pada orang itu. Cara praktis untuk melakukan hal ini adalah melibatkan si dia
dalam kehidupan / aktifitas sehari-hari kita, misalnya dengan ikut
melibatkannya di tengah acara keluarga atau aktifitas dengan teman-teman kita.
Pada saat persahabatan menjadi semakin erat, hal-hal yang
bersifat romantis harus tetap dihindari. Waktu-waktu dimana ada kesempatan
untuk bertumbuh dan melayani Tuhan bersama-sama dapat digunakan dengan
maksimal. Jangan tergesa-gesa membangkitkan api cinta sebelum waktunya – Kidung
Agung 8:4. Ketergesaan justru akan merusak hubungan yang sudah baik terjalin.
Integritas persahabatan harus dijaga sebaik-baiknya, misalnya dengan cara:
Bersikap sopan
Untuk Pria: hendaklah menganggap yang wanita sebagai saudari.
Jangan berlaku tidak sopan dengan memegang-megang, mencubit, atau
menyentuh bagian tubuh mereka. Perlakukan dengan hormat dalam perkataan dan
perbuatan.
Untuk Wanita: Jangan mencemooh atau bersikap genit terhadap para
pria dan pakailah baju yang sopan.
Bersikap wajar
Bila kita menyukai seseorang khususnya lawan jenis maka kita
cenderung memperlakukan dia berbeda dengan teman-teman kita yang lain. Hal ini
seharusnya dapat diminimalisasi jika kita sudah mengambil waktu yang cukup
dalam memikirkan point (a) di atas.
Berdoa
dan mencari nasihat teman, keluarga, dan pemimpin rohani.
Sebagai anak muda, rancangan/keinginan kita banyak namun kalau
memiliki pertimbangan yang baik maka kemungkinan untuk gagal jauh lebih kecil.
Kita memerlukan nasihat dari para pemimpin atau mereka yang lebih senior dari
kita karena nasihat mereka akan menuntun kita pada jalan dan arah yang benar.
Doa dan telinga yang mendengar nasihat orang lain sangatlah bermanfaat.
Mintalah teman-teman, pemimpin rohani dan orang tua kita berdoa untuk kita.
Menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tepat
Beberapa pertanyaan yang harus diujikan pada hubungan kita
misalnya:
Apakah hubungan kita sesuai dengan Firman Allah
Apakah kita sudah siap / cukup umur untuk menikah
Apakah orang tua kita atau pemimpin rohani kita menyetujui
hubungan itu
Apakah ada damai sejahtera Roh Kudus dalam hati kita
Kita harus mengambil cukup waktu untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan semacam tersebut di atas dengan hati-hati dan sejujur
mungkin.
Kamu pernah dengar prinsip-prinsip aneh
lainnya tentang cinta yang nggak masuk akal dan nggak pernah kelihatan
hasilnya? Yuk berbagi di kolom komentar.
Daftar Pustaka
http://www.gkpb.net/index.php/component/k2/item/164-beberapa-prinsip-dasar-cinta-yang-cerdik


.jpg)





0 komentar:
Posting Komentar