Penting gak sih sebenarnya prestasi belajar ituu..????
Nah disini kita akan membahas pentingnya prestasi belajar. Disamping mengutamakan cinta, prestasi belajar juga penting.. supaya teman-teman semua makin giat untuk belajar...cuss simak penjelasan berikut inii...
A.
Pengertian Prestasi Belajar
Dalam proses belajar mengajar dikelas untuk mengetahui
berhasil atau tidaknya pembelajaran yang dicapai siswa harus dilakukan evaluasi
yang hasilnya berupa prestasi belajar siswa. Kata prestasi belajar terdiri dari
dua suku kata, yaitu ‘prestasi’ dan ‘belajar’. Di dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, yang dimaksud dengan presatasi adalah: .Hasil yang telah dicapai
(dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya) (Gepdikbud, 2002:895). Adapun belajar
menurut pengertian secara psikologis, adalah merupakan suatu proses perubahan
yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata
dalam seluruh aspek tingkah laku. Menurut Slameto pengertian belajar dapat
didefinisikan sebagai berikut: .Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya (Slameto, 2003:2).
M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan,
mengemukakan bahwa belajar adalah tingkah laku yang mengalami perubahan
karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis,
seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berpikir,
keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap (Purwanto, 2003: 85). Dalam
rumusan H. Spears yang dikutip oleh Dewa Ketut Sukardi mengemukakan bahwa
belajar itu mencakup berbagai macam perbuatan mulai dari mengamati, membaca,
menurun, mencoba sampai mendengarkan untuk mencapai suatu tujuan (Sukardi,
1983:17). Selanjutnya, definisi belajar yang diungkapkan oleh Cronbach di dalam
bukunya Educational Psychology yang dikutip oleh Sumardi Suryabrata
menyatakan bahwa: belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan
dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancainderanya (Suryabrata,
2002:231).
Evaluasi terhadap penilaian hasil dan proses belajar
bertujuan untuk mengetahui ketuntasan peserta didik dalam menguasai kompetensi
dasar yang telah ditetapkan. Nana Sudjana (2005:22) dalam bukunya berpendapat
bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
menerima pengalaman belajarnya.” Prestasi belajar berasal dari kata “prestasi”
dan “belajar”. Menurut Kamus Ilmiah Populer (2002:594) prestasi merupakan hasil
yang telah dicapai. Berdasarkan pendapat tersebut, disimpulkan bahwa prestasi
belajar merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam penguasaan
pengetahuan dan keterampilan suatu mata pelajaran tertentu sesuai dengan tujuan
yang diinginkan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 895)
prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan,dikerjakan,dan
sebagainya. Belajar adalah proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan
ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memegang
peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan,
kepribadian dan persepsi manusi (Catharina, 2004: 4). Belajar adalah merupakan
suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan
hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yaitu mengalami. Hasil
belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan
(Hamalik, 2001: 36). Menurut Sumadi (1998: 7) prestasi belajar adalah merupakan
ukuran keberhasilan belajar paling luas dipakai dalam penelitian. Pada umumnya
prestasi belajar terdapat pada buku raport setelah siswa melakukan aktivitas
belajar di sekolah dalam kurun waktu tertentu, seperti catur wulan atau
semester. Dengan prestasi belajar maka guru, siswa dan orang tua akan
mengetahui hasil yang dicapai dalam pembelajaran atau pendidikan.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan beberapa tokoh
di atas, maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa belajar adalah
suatu proses perubahan tingkah laku yang merupakan sebagai akibatdari
pengalaman atau latihan. Sedangkan pengertian prestasi belajar sebagaimana yang
tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: ‘penguasaan pengetahuan
atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan
dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru..39 Prestasi belajar
dapat bersifat tetap dalam serjarah kehidupan manusia karena sepanjang
kehidupannya selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan
masing-masing. Prestasi belajar dapat memberikan kepuasan kepada orang yang
bersangkutan, khususnya orang yang sedang menuntut ilmu di sekolah.
B. Fungsi dan Kegunaan Prestasi
belajar
Untuk mengetahui seberapa jauh prestasi belajar telah
dicapai peserta didik, maka diadakan kegiatan evaluasi pembelajaran. Evaluasi
pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis dengan
mengumpulkan bukti-bukti untuk menentukan keberhasilan belajar. Oemar Hamalik
(2001:159) dalam bukunya menyatakan tentang evaluasi hasil belajar merupakan:
Keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan
informasi), pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan
tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan
kegiatan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil
belajar menunjuk kepada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu
merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku.
Tujuan diadakannya kegiatan evaluasi adalah untuk
mengetahui keefektifan dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar sehingga
dalam pelaksanaannya evaluasi harus dilakukan secara terus-menerus baik itu
pada awal, pada saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar maupun pada akhir
tatap muka kegiatan belajar mengajar. Evaluasi pada umumnya digunakan untuk
menilai dan mengukur hasil belajar peserta didik, terutama hasil yang berkenaan
dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan
pengajaran. Zainal Arifin (1991:2) mengemukakan fungsi utama prestasi belajar
antara lain:
- Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kualitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
- Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
- Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.
- Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
- Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat diketahui
bahwa betapa pentingnya mengetahui prestasi belajar siswa, baik individual
maupun kelompok karena prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator
keberhasilan, dan juga berguna bagi guru yang bersangkutan sebagai umpan balik
dalam melaksanakan pembelajaran dikelas apakah akan diadakan perbaikan dalam
proses belajar mengajar ataupun tidak.
C. Evalluasi Prestasi
Belajar
Prestasi belajar meliputi segenap ranah kejiwaan yang
berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa yang
bersangkutan. Prestasi belajar dapat dinilai dengan cara:
- Penilaian formatif. Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.
- Penilaian Sumatif. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu (Purwanto, 2001:26).
D. Jenis-jenis
Prestasi Belajar
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal
meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan
proses belajar siswa. Yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah mengambil
cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting yang dapat mencerminkan
perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta
dan rasa maupun karsa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil
belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya
prestasi belajar) dikaitkan dengan jenis-jenis prestasi yang hendak diukur
(Muhibbin Syah, 1999:150.
Dalam sebuah situs yang membahas Taksonomi Bloom,
dikemukakan mengenai teori Bloom yang menyatakan bahwa, tujuan belajar siswa
diarahkan untuk mencapai ketiga ranah. Ketiga ranah tersebut adalah ranah
kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka
melalui ketiga ranah ini pula akan terlihat tingkat keberhasilan siswa dalam
menerima hasil pembelajaran atau ketercapaian siswa dalam penerimaan
pembelajaran. Dengan kata lain, prestasi belajar akan terukur melalui
ketercapaian siswa dalam penguasaan
ketiga ranah tersebut. Maka Untuk lebih spesifiknya,
penulis akan akan menguraikan ketiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik
sebagai yang terdapat dalam teori Bloom berikut:
1. Cognitive Domain (Ranah
Kognitif)
Cognitive Domain berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan
berpikir. Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri
dari dua bagian: Bagian pertama adalah berupa Pengetahuan (kategori 1) dan
bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6).
- Pengetahuan (Knowledge). Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar dan sebagainya. Pengetahuan juga diartikan sebagai kemampuan mengingat akan hal-hal yang pernah dipelajaridan disimpan dalam ingatan (Winkel, 1996:247).
- Pemahaman (Comprehension).Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menangkap makna dan arti yang dari bahan yang dipelajari (Winkel, 1996:247). Pemahaman juga dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dan sebagainya.
- Aplikasi (Application). Aplikasi atau penerapan diartikansebagai kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkret dan baru (Winkel, 1996:247). Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan sebagainya di dalam kondisi kerja.
- Analisis (Analysis). Analisis didefinisikan sebagai kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit.
- Sintesis (Synthesis). Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Sintesis satu tingkat di atas analisa. Seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan.
- Evaluasi (Evaluation). Evaluasi diartikan sebagai kemampuan untik membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan kriteria tertentu. Evaluasi dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.
2. Affective Domain (Ranah Afektif)
Affective Domain berisi perilaku-perilaku yang
menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara
penyesuaian diri. Tujuan pendidikan ranah afektif adalah hail belajar atau
kemampuan yang berhubungan dengan sikap atau afektif. Taksonomi tujuan
pendidikan ranah afektif terdiri dari aspek:
- Penerimaan (Receiving/Attending). Penerimaan mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleg guru.
- Tanggapan (Responding). Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
- Penghargaan (Valuing). Penghargaan atau penilaian mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu.mulai dibentuk suatu sikap menerima,
- menolak atau mengabaikan, sikap itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dengan konsisten dengan sikap batin.
- Pengorganisasian (Organization). Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten. Pengorganisasian juga mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai- nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu penting.
- Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex) Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya (Winkel, 1996:248). Karakterisasinya mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikin rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor)
berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek
keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan
mengoperasikan mesin. Alisuf Sabri dalam buku Psikologi Pendidikan menjelaskan,
keterampilan ini disebut .motorik. karena keterampilan ini melibatkan secara
langsung otot, urat dan persendian, sehingga keterampilan benar-benar berakar
pada kejasmanian. Orang yang memiliki keterampiulan motorik, mampu melakukan
serangkaian gerakan tubuh dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi
gerakan-gerakan anggota tubuh secara terpadu. Ciri khas dari keterampilan
motorik ini ialah adanya kemampuan otomatisme, yaitu gerakan-gerik yang terjadi
berlangsung secara teratur dan berjalan dengan enak, lancar dan luwes tanpa
harus disertai pikiran tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa hal itu
dilakukan. Keterampilan motorik lainnya yang kaitannya dengan pendidikan agama
ialah keterampilan membaca dan menulis huruf Arab, keterampilan membaca dan
melagukan ayat-ayat Al-Qur.an, keterampilan melaksanakan gerakan-gerakan
shalat. Semua jenis keterampilan tersebut diperoleh melalui proses belajar
dengan prosedur latihan (Sabri, 1996:99-100).
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Prestasi Belajar
Kegiatan belajar dilakukan oleh setiap siswa, karena
melalui belajar mereka memperoleh pengalaman dari situasi yang dihadapinya.
Dengan demikian belajar berhubungan dengan perubahan dalam diri individu sebagai
hsil pengalamannya di lingkungan. Secara global, faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi dua macam:
1.
Faktor Internal (faktor dari dalam siswa),
yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, meliputi
dua aspek yakni:
- Aspek Fisiologis. Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak membekas.
- Aspek Psikologis. Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualits perolehan pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
- Tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa. Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungan dengan intelegensi manusia lebih menonjol dari pada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak merupakan .menara pengontrol. hampir seluruh aktifitas manusia. Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa mak semakin besar peluangnya untuk memperoleh sukses.
- Sikap siswa. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang,dan sebgainya, baik secara positif maupun negatif (Syah, 1999:135). Sikap merupakan faktor psikologis yang kan mempengaruhi belajar. Dalam hal ini sikap yang akn menunjang belajar seseorang ialah sikap poitif (menerima) terhadap bahan atau pelajaran yang akan dipelajari, terhadap guru yang mengajar dan terhadap lingkungan tempat dimana ia belajar seperti: kondisi kelas, teman-temannya, sarana pengajaran dan sebagainya (Sabri, 1996:84).
- Bakat Siswa. Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan denikian, sebetulnya setiap orang mempunyai bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berintelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar bisa (very superior) disebut juga sebagai gifted, yakni anak berbakat intelektual.
- Minat siswa. Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi seseorang terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualits pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu (Muhibbin Syah, 1999:136).
2. Faktor eksternal (faktor dari luar
diri siswa),
terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental
sebagai berikut:
- Faktor-faktor Lingkungan. Faktor lingkungan siswa ini dapat dibagi menjadi dua bagian
- yaitu: faktor lingkungan alam/non sosial dan faktor lingkungan sosial. Yang termasuk faktor lingkungan non sosial/alami ini ialah seperti: keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, malam), tempat letak gedung sekolah, dan sebagainya. Faktor lingkungan sosial baik berwujud manusia dan representasinya termasuk budayanya akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.
- Faktor-faktor Instrumental. Faktor instrumental ini terdiri dari gedung/sarana fisik kelas,
- sarana/alat pengajaran, media pengajaran, guru dan kurikulum/materi pelajaran serta strategi belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa (Sabri, 1996:59-60. Dari semua faktor di atas, dalam penelitian kali ini akan diarahkan pada faktor instrumental yang di dalamnya guru profesional itu akan ditunjukan.
Faktor-faktor di atas saling mempengaruhi satu sama
lain. Misalnya: Seorang siswa yang conserving terhadap ilmu pengetahuan
biasanya cenderung mengambil pendekatan yang sederhana dan tidak mendalam.
Sebaliknya seorang siswa yang memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi
(faktor Iternal) dan mendapat dorongan positif dari orang tua atau gurunya
(faktor eksternal) akan lebih memilih pendekatan belajar yang lebih
mementingkan kualitas hasil belajar. Akibat pengaruh faktor-faktor tersebut di
atas muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi, rendah atau gagal sama sekali.
Dalam hal ini seorang guru yang memiliki kompetensi yang baik dan profesional
diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinankemungkinan munculnya siswa yang
menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi
faktor-faktor yang menjadi penghambat proses belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Abu dan Cholid Narbuko. 2007. Metodologi
Penelitian. Jakarta: Bumi aksara.
Aqib, Zaenal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.
Bandung: Irama Widya
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.
Bandung: Yrama Widya.
Arifin, H.M. 1995. Kapita Selekta Pendidikan (Islam
dan Umum), Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Zainal. 1990. Evaluasi Instruksional
Prinsip Teknik Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur
Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2008. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Chatarina Tri Anni. 2004. Psikologi Belajar. Semarang:
IKIP Press
Dalyono, M. 1996. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2002. Kamus
Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Dimyati dan Mudjiono, 2002. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Dimyati, Abu Muhammad bin Khallad. 2003. Hadits
Shahih Keutamaan Amal Shalih, Jakarta: Najla Press.
Djamarah, Saeful Bahri. 2005. Guru dan anak didik
dalam interaksi edukatif. Jakarta: Rineka Cipta
Djamarah, Saeful Bahri. 2006. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Gani, Bustami, A. 1970. Dasar-Dasar Pokok
Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
H.J. Gino. 1999. Belajar dan Pembelajaran 1.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Hamalik, Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan
Pendekatan Kompetensi, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006, Cet, Ke-4.
Hamalik, Oemar. 2001. kurikulum dan Pembelajaran.
Bandung: PT. Bumi Aksara
Hamalik, Oemar. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:
Bumi Aksara.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar.
Bandung: PT. Bumi Aksara
Hamzah, 2007. Perencanaan Pembelajaran.
Jakarta: Bumi Aksara.
Hartono Kasmadi, 2001.Pengembangan Pembelajaran
dengan pendekatan model-model pengajaran sejarah. Semarang: Prima Nugraha
Pratama
Hasbullah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.
Jakarta: Rajawali Press.
Isa, Kamal Muhammad. 1994. Manajemen Pendidikan
Islam, Jakarta: PT. Fikahati Anesta.
Isjani. 2009. Pembelajaran Kooperatif.
Yogtakarta: Pustaka Belajar.
Ismail, 2008. Strategi Pembelajaran Agama Islam
berbasis Paikem. Semarang: RaSAIL Media Group.
Johson, Elaine B. dan Chaedar Alwasilah. 2007. Contextual
Teaching Learning. Bandung: MLC.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005. Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional: Balai Pustaka
Kasbolah, Kasihani, 2001. Penelitian Tindakan Kelas
untuk Guru. Malang: Universitas Negeri Malang
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi
Gur, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah.
Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya
Max Darsono, 2000. Belajar dan pembelajaran. Semarang:
IKIP Semarang Press
Moleong, J.Lexy. 2005. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Mulyasa, E. 2008. Standar Kompetensi dan
Sertifikasi Guru, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya: Bandung.
Mulyasa. 2006. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: Remaja Rosda Karya
Munib, 2007.Pengantar Ilmu Pendidikan: UPT
Unnes Press
Namsa, M. Yunus. 2006. Kiprah Baru Profesi Guru
Indonsia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Pustaka Mapan.
Purwadaminta. 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka
Purwanto, M. Ngalim. 1996. Psikologi
Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Purwanto, M. Ngalim. 2001. Prinsip-Prinsip dan
Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Purwanto, M. Ngalim. 2003. Psikologi Pendidikan,
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Rachaety, Ety, Pantjorini, dan Prima Gusti
Yanti. 2006. Sistem Informasi Manejemen Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Sabri, Alisuf. 1992. Mimbar Agama dan Budaya, Jakarta:
Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat IAIN.
Sholeh, Asrorun, Ni.am. 2006. Membangun
Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya Undang-Undang Guru dan
Dosen, Jakarta: eLSAS.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
Soedomo. 2003. Pendidikan (suatu pengantar).
Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Soetjipto dan Raflis Kosasi. 2004. Profesi
Keguruan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Su‟ud, Udin Saefudin. 2008. Inovasi Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Sudijono, Anas. 2000. Statistik Pendidikan, Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Sudjana, 2001. Metode dan Teknik Pembelajaran
Partisipasif. Bandung: Falah Produktion.
Sudjana, Nana. 1998. Dasar-dasar Pproses Belajar
Mengajar, Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana.. 2005. Penilaian Hasil Proses
Belajar.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugeng, Hariyadi. dkk, 2003. Psikologi Perkembangan.
Semarang: UPT MKDK Unnes
Suharno, Sukardi, Codijah, Suwalni. 2000. Belajadan
Pembelajaran II. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.
Suharsimi Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta
Sukardi, Dewa, Ketut. 1983. Bimbingan dan
Penyuluhan Belajar di Sekolah, Surabaya: Usaha Nasional.
Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Suparlan, dkk. 2008. Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan. Bandung: PT. Genesindo
Supriyono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori
dan Paikem. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Suryabrata, Sumardi. 2002. Psikologi Pendidikan,
Jakarta: PT. Raja Grafindi Persada.
Suwarna, dkk. 2006. Pengajaran Mikro.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar,
Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, Cet. Ke-2. Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan
dan Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Syaodih, Nana. 2006. Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: Remaja Rosdakary.
Tilaar, H.A.R. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional,
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Usman, M. Uzer. 2006. Menjadi Guru Profesional, Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya.
Wahyuni, Baharuddin, 2007. Teori Belajar dan
Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Widja, I Gede.1989. Dasar-dasar Pengembangan
Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: Depdikbud
Widodo. 2002. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta:
Absolut.
Winkel, W. S.. 1999. Psikologi Pengajaran. Jakarta:
PT Gramedia.
Winkel, W.S, Psikologi Pengajaran, Jakarta:
Grasindo, 1996, Cet. Ke-4.
Yamin, Martinis. 2007. Profesionalisasi Guru dan
Implementasi KTSP, Jakarta: Gaung Persada Press.
Zurinal Z. dan Wahdi Sayuti. 2006. Ilmu
Pendidikan, Jakarta: UIN Jakarta Press.








0 komentar:
Posting Komentar